WHAT’S HOT NOW

ads header

News

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Sosok

Kabar Dari Manca

Sambang Klub

» »Unlabelled » Mengenang sang Legenda Johan Wahjudi


Dia pernah menjadi kebanggaan Indonesia. Piala Thomas dan gelar All England pernah disumbangkan bagi negaranya.
--
KABAR duka berhembus pada pertengahan November 2019. Salah legenda bulu tangkis Indonesia dan dunia, Johan Wahjudi, menghembuskan nafas terakhir.

Dia meninggal di usia 66 tahun di Malang, Jawa Timur. Kota kelahiran dari pebulu tangkis spesialias ganda putra tersebut.

Di masa kejayaannya, dia berpartner dengan Tjun-Tjun. Keduanya dikenal karena mampu menjadi juara dunia kali pertama saat ajang itu dilaksanakan di Malmoe, Swedia. Pada pertandingan final, Johan/Tjun Tjun menundukkan rekannya sendiri, Christian Hadinata/Ade Chandra, dengan dua set langsung 15-6, 15-4.
  
Bersama Tjun-Tjun, Johan pun mengukir enam kali juara ganda putra di turnamen paling bergengsi di muka bumi ini, All England. Mereka menjadi juara 1974-1975, 1977-1980. Hanya pada 1976, gelar mereka lepas ke pasangan Swedia Bengt Froman/Thomas Kihlstrom. Johan/Tjun-Tjun dikenal mempunya gaya bermain yang menyerang.

Johan mulai bermain bulu tangkis saat usianya masih di bawah empat tahun. Dia digemleng langsung oleh ayahnya. Penampilannya yang menanjak membuat lelaki kelahiran 10 Februari 1953 tersebut mendapat panggilan masuk tim nasional buat persiapan Invitasi Kejuaraan Dunia di Jakarta.

Dipasangkan dengan Tjun-Tjun membuat Johan menemukan tandem yang sehati. Baru setahun, mereka menembus final All England sebelum dikalahkan 1-15, 7-15 dari Christian/Ade. Hebatnya, mulai 1974-1980, mereka hanya sekali menelan kekalahan yakni di final All England 1976.
 
Christian Hadinata, salah legenda hidup ganda putra dunia, mengakui ketangguhan mendiang dengan Tjun-Tjun. Baginya, mereka tipe pasangan yang dibutuhkan era sekarang.

''Bermain menyerang dan rotasinya bagus,'' ungkapnya seperti dikutip dari situs BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia).

Itu, ujar Christian, berbeda dengan pasangan lain di masanya.  Dia mencontohkan dirinya dengan Ade yang bermain di depan dan pasangannya di belakang.

''Johan dan Tjun-Tjun merupakan pasangan pertama yang bermain sama baiknya di depan dan belakang. Dengan gaya itu, mereka mampu enam kali menjadi juara All England,'' puji lelaki yang sukses melahirkan pasangan-pasangan dunia di era 1990-an hingga 2000-an itu.
 
Johan menjadi salah satu figur penting saat menjadi juara Piala Thomas 1976 dan 1979. Dalam 13 kali penampilannya, mereka hanya sekali menelan kekalahan. Pada 1976, Indonesia mempermalukan Malaysia dengan skor telak 9-0. Seperti tiga tahun kemudian saat melibas Denmark juga dengan 9-0.
 
Saat mempertahankan gelar di kandang sendiri, Jakarta, Tjun Tjun mengalami cedera. Setahun kemudian, mereka juga dikalahkan rekan sendiri, Rudy Heryanto/Hariamanto Kartono. Cedera punggung Tjun-Tjun membuat dia pensiun lebih cepat.

Kontribusinya yang besar kepada bulu tangkis membuat Johan/Tjun-Tjun masuk Hall of Fame BWF pada 2009. (*)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama