WHAT’S HOT NOW

ads header

News

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Sosok

Kabar Dari Manca

Sambang Klub

Mana Sisa Kejayaanmu Minions

    SMASHYESS - Waktu terus berjalan. Usia pasangan Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya pun merambat naik. Pada 2023, Kevin sudah 27 tahun. Bahkan Marcus lebih tua dan berkepala tiga, tepatnya 31. Tentu, stamina dan kecepatan yang menjadi andalan keduanya sudah tidak seperti dulu.

Gaya bermain lawan-lawannya pun sudah dibaca oleh para lawan. Mengalahkan Minions, julukan Marcus/Kevin, sudah bukan hal yang susah. Imbasnya, menjadi juara pun terasa susah bagi keduanya. Apalagi kalau bertemu lawan yang mempunyai pertahanan yang kuat. Hampir dipastikan, dalam dua atau tiga tahun terakhir, Minions akan akan mengalami kesulitan berujung kekalahan. Faktanya sudah terbukti di 2023.

Tiga kali kejuaraan yang diikuti, Minions memetik malu. Gagal sebelum semifinal. Ironisnya, ketiganya kalah oleh pasangan Tiongkok. Dua kali dari Liang Wei Keng/Wang Chang, yakni di Malaysia Open dan India Open, serta oleh Liu Yu Chen/Ou Xuan Yi di Indonesia Masters. Selain faktor usia dan cara bermain, ketidakharmonisan yang pernah terjadi anatara pasangan yang kini ada di ranking 19 dunia tersebut dengan pelatih Herry Iman Piengardi juga menjadi penyebab. Masalah kurang respect dengan pelatih membuat Minions sudah bukan yang dulu. Keduanya dipasangkan oleh Herry IP. Bisa dikatakan Herry adalah penemu Minions.

Sebelumnya, Kevin berpasangan dengan Selvanus Geh dan Marcus dengan Markis Kido, juara Olimpiade 2008 yang kini sudah meninggal. Kekalahan terakhir Minions di Indonesia Masters 2023 bisa membuat kita mengelus dada. Bagaimana tidak, penyebabnya adalah faktor kebugaran. Kondisi perut Marcus bermasalah. Satu hal yang seharusnya tidak boleh dialami oleh pasangan sekelas mereka. (*)

Ulangi Sukses 28 Tahun Lalu

INDONESIA boleh menepuk dada di Denmark Open 2019. Dalam ajang yang  masuk kategori level 3 tersebut, lagu Indonesia Raya berkumandang dua kali yakni di nomor ganda campuran dan ganda putra.

    Di ganda campuran, wakil Indonesia, Praveen Jordan/ Melati Daeva Oktavianti secara mengejutkan naik ke podium terhormat. Mengejutkan? Ya, ini karena selama 2019 yang sudah masuk bulan kesepuluh, keduanya belum pernah menjadi juara.

    Dalam final yang dilaksanakan di Odense Sportspark pada Minggu (20/10/2019), Praveen/Melati, yang hanya diunggulkan di posisi keenam, mempermalukan unggulan kedua asal Tiongkok Wang Yi Lyu/Huang Dong Ping dalam pertandingan ketat tiga game 21-18, 18-21, 21-19.

    Sedangkan Sinyo, sapaan karib Marcus Fernaldi/Kevin menghentikan asa seniornya, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, dengan dua game  yang tak terlalu memeras keringat dengan 21-14, 21-13. Hasil ini membuat mereka mampu mempertahankan gelar yang diraih pada 2018. Tahun lalu, pasangan yang digembleng di Pelatnas Cipayung tersebut menundukan Keigo Sonoda/Takeshi Komura (Jepang) dengan 21-15, 21-16.

    Ini menjadi gelar keenam bagi Sinyo/Kevin selama perjalanan 2019. Sebelumnya, pasangan nomor satu dunia tersebut menjadi pemenang di ajang bergengsi di Malaysia Masters, Indonesia Masters, Indonesia Open, Japan Open, dan China Open.

    Sayang, tumpukan gelar itu serasa kurang. Ini karena Sinyo/Kevin tak merasakan manisnya gelar juara dunia.

    Dalam ajang yang dilaksanakan di Basel, Swiss, tersebut keduanya langsung tersingkir di babak kedua atau penampilan perdana. Sebab, di babak I, Sinyo/Kevin memperoleh bye.

    Menempati unggulan teratas, mereka dipermalukan pasangan Korea Selatan Choi Sol-gyu/Seo Seung-jae dengan 21-16, 14-21, 21-23. Untung, gelar juara dunia tetap bisa dibawa pulang ke Indonesia melalui Hendra/Ahsan.
   
    Di Denmark Open sendiri,  menggondol dua gelar ini mengulangi capaian 28 tahun lalu atau pada 1991. Ketika itu,juara diraih Hermawan Susanto di tunggal putra dan Susi Susanti di tunggal putra. (*)
   


HASIL DENMARK OPEN 2019

TUNGGAL PUTRI    :
Tai Tzu Ying (Taiwan x4) v Nozomi Okuhara (Jepang x3) 21-17, 21-14

GANDA CAMPURAN:
Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti (Indonesia x6) v Wang Yi Lyu/Huang Dong Ping (Tiongkok x2) 21-18, 18-21, 21-19

GANDA PUTRI        :
Baek Ha-na/Jung Kyung-Eun (Korsel) v Chen Qing Chen/Jia Yi Fan (Tiongkok x4) 9-21, 21-19, 21-15

GANDA PUTRA    :
Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya (Indonesia x1) v Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan (Indonesia x2) 21-14, 21-13

TUNGGAL PUTRA
Kento Momota (Jepang x1) v Chen Long (Tiongkok x5) 21-14, 21-12

X=unggulan

Pertemuan Ke-12 di Babak Final Denmark

KABAR gembira datang dari Odense. Satu gelar sudah dipastikan dibawa pulang ke Indonesia dari Danish Open atau Denmark Terbuka.

Ini setelah dua pasangan ganda putra merah putih, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya dan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, bentrok di babak final dalam ajang yang menyediakan hadiah total USD 775.000 tersebut.

Pada babak semifinal  yang dilaksanakan Sabtu waktu setempat (19/10/2019), Sinyo, sapaan karib Marcus/Kevin menundukkan wakil Taiwan Lu Ching Yao/Yang Po Han dengan dua game langsung 21-16, 21-11. Ini menjadi kemenangan kedua dalam dua kali pertemuan yang dilakoni pasangan nomor satu dunia tersebut. Sebelumnya, Sinyo/Kevin menang 21-16, 21-17 di Malaysia Open 2018.

Tak lama berselang, seniornya, Hendra/Ahsan, melibas Takeshi Komura/Keigo Sonoda (Jepang) dengan rubber game 21-19, 19-21, 21-15. Hasil ini membuat The Daddies, julukan Hnedra/Ahsan, memenangi lima kali laga dalam tujuh kali pertemuan.

Bagi kedua pasangan, Sinyo/Kevin dan Hendra/Ahsan, pertemuan di negara Skandinavia ini bukan yang pertama. Mereka sudah bertemu 11 kali. Hasilnya, Sinyo/Kevin menang sembilan kali. Bahkan, dalam delapan kali perjumpaan terakhir selalu memetik hasil manis.

Hanya, bisa jadi kali ini, semuanya bisa berubah. Pengalaman segudang dari Hendra/Ahsan bisa membalikan prediksi.

Namun, siapa pun pemenangnya, ini akan memantapkan posisi keduanya untuk mengamankan tiket menembus Olimpiade Tokyo 2020. (*)


Head to Head

Sinyo/Kevin v Hendra/Ahsan
1. China Open 2019        21-18, 17-21, 21-15
2. Japan Open 2019     21-18, 23-21
3. Indonesia Open 2019    21-19, 21-16
4. Indonesia Masters 2019    21-17, 21-11
5. Hongkong Open 2018    21-14, 18-21, 21-9
6. Denmark Open 2018    21-18, 24-22
7. Indonesia Open 2018    21-16, 18-21, 21-10
8.India Open 2018        21-11, 21-16
9. Malaysia Open 2016    14-21, 19-21
10. Taiwan Open 2015    21-19, 21-17
11. Indonesia Open 2015    17-21, 15-21

Sumber: bwf


Guyuran Bonus buat si Kembar

Wijanarko (kanan) bersama kembar
PASANGAN Syahrozi Dafandi Arafixqli /Syahrizal Dafandi Arafixqli panen apresiasi. keduanya mendapat guyuran uang dari Pengprov PBSI Jatim, Pengkot PBSI Surabaya, dan Kapolres Probolinggo AKBP Eddwi Kurniyanto.
 Hanya dari ketiganya, PBSI Jatim yang terang-terangan menyebutkan nominalnya, yakni Rp 10 juta. Sedangkan PBSI Surabaya Rp 3 juta, dan Eddwi merahasiakan apresiasi yang diberikan.
 Syahrozi/Syahrizal yang digembleng di PB Pratama Surabaya tersebut mendapat penghargaan atas upaya yang diraih. Keduanya mampu menjadi juara nomor ganda taruna putra dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) 2018 yang dilaksanakan di Jakarta pada Desember.
 Gelar yang diraih pasangan kembar kelahiran 9 Desember 2000 tersebut juga menjadi obat dahaga gelar Jatim yang cukup lama di ajang kejurnas junior. Sejak Hendrawan pada 1990, Jatim tak pernah menempatkan wakilnya menjadi juara di kelompok usia di bawah 19 tahun tersebut.
 ''Jadi, wajar kalau Kembar dapat apresiasi dari PBSI Jatim. Jangan dihitung nominalnya, tapi ini sebagai bentuk penghargaan kami kepada atlet yang mengharumkan Jatim,'' kata Ketua Pengprov PBSI Jatim Wijanarko usai menyerahkan penghargaan  di GOR Sudirman, Surabaya, kemarin.
 Dia ingin agar langkah yang dilakukan organisasi yang dipimpin bisa memacu  pebulu tangkis Jatim lain untuk berprestasi di ajang nasional maupun internasional.
 Atas keberhasilan menjadi juara  Kejurnas 2018, Syahrozi/Syahrizal mendapat kesempatan magang selama enam bulan di Pelatnas Cipayung. Keduanya berusaha memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik mungkin.
 ''Kalau bisa, kami ingin terus di sana. Bukan lagi  dengan status magang tapi penghuni tetap,'' ucap Syahrizal. (*)

Tulisan ini dibuat di Harian Jawa Pos Edisi 6 Januari 2019

Keenam bagi Kevin/Marcus

GELAR keenam diraih Pasangan ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon. Ini setelah mereka sukses mempertahankan gelar juara  Japan Open 2018.

Dalam ajang yang masuk BWF World Tour Super 750, Kevin/Marcus mengalahkan Li Junhui/Liu Yuchen (Tiongkok), dengan 21-11, 21-13 dalam final yang dilaksanakan di Tokyo Minggu (16/9/2018). Di di Musashino Forest Sport Plaza, Kevin/Marcus tampil solid.
Pasangan ranking satu dunia itu memberikan kesempatan kepada Li/Liu untuk mengembangkan permainan. Namun dituturkan Kevin/Marcus, Li/Liu mengubah taktik permainan mereka dari biasanya.

"Kami senang bisa mempertahankan gelar kami. Apalagi ini turnamennya di Jepang, kami bisa memberikan hasil yang terbaik untuk sponsor kami," kata Kevin usai pertandingan seperti dikutip media PBSI.

Li/Liu, ujar lelaki asal Banyuwangi itu, lebih banyak main bertahan. Tapi, dia dan Marcus  sudah siap dengan semua strategi mereka, jadi kami lebih yakin.

Marcus juga mengiyakan pernyataan Kevin. Meskipun lawan mengubah strategi, mereka sudah mengantisipasi hal ini. Terbukti perolehan skor cukup jauh di penutup game pertama maupun game kedua.

"Mereka banyak mengarahkan bola ke atas, mungkin karena bolanya berat. Tapi kami sudah mempersiapkan tenaga, kami tahu ini pasti akan terjadi. Kami sudah mempelajari penampilan mereka waktu melawan Fajar (Alfian)/Rian (Ardianto). Model mainnya mirip, jadi kami sudah bisa memprediksi," beber Marcus.

Stadion yang digunakan di Japan Open 2018 merupakan stadion yang akan digunakan untuk Olimpiade Tokyo 2020. Untuk itu, Kevin/Marcus mengaku optimis dapat menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan di stadion ini.

"Suasananya enak, kami cukup nyaman bermain di sini. Walaupun bolanya berat. Tapi kami bisa mengatasi," ujar Kevin.

Hasil Final Japan Open 2018:
Tunggal Putra: Kento Momota (Jepang/x3) s Khosit Phetpradab (Thailand) 21-14, 21-11

Ganda Putri: Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (Jepang x11) v Chen Qingchen/Jia Yifan (3/CHN) 21-15, 21-12

Ganda Campuran: Zheng Siwei/Huang Yaqiong (Tiongkok x1) v Wang Yilyu/Huang Dongping (Tiongkok x2) 21-19, 21-8

Tunggal Putri
Carolina Marin (Spanyol x 6) v Nozomi Okuhara (Jepang x8) 21-19, 17-21, 21-11

Ganda Putra
Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo (Indonesia x1) v Li Junhui/Liu Yuchen (Tiongkok x2) 21-11, 21-13

Gintin Ketemu Unggulan Teratas


DENDAM Anthony Ginting kepada Prannoy H.S. terbalas tuntas. Dia mampu mengalahkan wakil India itu di babak kedua Japan Open dengan dua game langsung 21-14, 21-17.

 Sebelumnya, Prannoy mempermalukan Ginting di Indonesia Open 2018. Ketika itu, dia menang 21-13, 21-18. Selain itu, di babak I, Prannoy menang atas peraih emas Asian Games 2018 asal Indonesia Jonatan Christie.

"Pertama memang dari pikiran, sejak Asian Games kemarin, saya mainnya lebih rileks, saya bisa menikmati permainan. Kedua dari fokusnya, ini yang paling penting. Ketiga adalah dari segi fisik dan kekuatan tubuh secara keseluruhan," ujar Anthony seperti dikutip dari media PBSI.
 
Salah satu kunci kemenangannya adalah menonton video pertandingannya, dan menghafal kebiasaan lawan. Ini membuat Ginting berhasil menerapkan strategi yang sudah dirancang.

''Apalagi shuttlecock nya berat, saya harus lebih tenang, kalau buru-buru bisa jadi bumerang," tambah peraih medali perunggu Asian Games 2018 ini.
 
Anthony akan berjumpa dengan Viktor Axelsen. Pebulu tangkis Denmark ini melewati hadangan Kenta Nishimoto (Jepang) di babak pertama. Anthony sementara unggul 1-0 atas Axelsen.
 
"Viktor adalah pemain dengan tipe main reli balik serang. Dengan postur tubuhnya yang tinggi, saya harus wasapada dengan serangan-serangannya. Strateginya kurang lebih sama dengan pertandingan hari ini, yang penting fokusnya dan bisa merasa enjoy di lapangan," ujar Anthony. (*)